Lingkungan baruku membuatku sering berpapasan dengan mereka, anak2 SLB ( sekolah Luar Biasa ).
Pertama kali ketemu dan berpapasan dengan meraka dijalan ada rasa takut dan khawatir, takut mereka tiba2 berbuat yg tak terduga terhadapku. Jd ªќひ lebih memilih menghindar dan buru2 pergi menjauh dari mereka. Aq berpikir Mgkn lbh baik g berurusan dng mereka. Apalagi saat melihat tatapan tajam mereka yang mengarah kepadaku seolah menyelidik dan penuh curiga. Bahkah pernah suatu hari ada anak laki2 mgkn seusia remaja teriak menggodaku "cewek... cewek...". Langsung saja aq terbirit2 mengayunkan seribu langkah.
Ah tapi itu dulu, saat pemikiran dan pandanganku tentang mereka masih sempit. Sampai pada akhirnya pimikiranq lebih terbuka ^^telat neng^^ shiiitsss ga ad kata terlambat :p
Kejadian yg menyadarkanku adalah suatu ketika, Aq naik bis yg penuh sesak penumpang, aq pun berdiri waktu itu karena g kebagian tempat duduk. Lalu ada seorang ibu naik sambil menggendong ank balita dan menjinjing bawaan yg lumayan bny. Tentu saja ibu itu jg berdiri, dan terlihat begitu kerepotan. Beberapa detik aq perhatikan ibu tersebut, aq menanti reaksi empati para penumpang yg duduk untuk mengalah memberikan tempat duduknya. Namun 5 menit berlalu g ada yg tergerak hatinya. Ahh kemana rasa empati mereka, pdhl sebagian besar dr mereka adalah ank2 SLTA. Jd teringat saat aq dibangku sekolah dl saat SD, SMP bahkan SMA tak jarang guru memberikan nasehat untuk berempati terhadap orang yg lbh memerlukan spt di kendaraan umum, mengalah dengan org yg tua, hamil, skt dan bawa anak. Sungguh nasehat yg sederhana namun begitu bermakna ternyata.
Tiba2 aq tersadar dari lamunanq ketika ada seorang ank laki2 bertubuh kurus, mengenakan baju putih merah, walau sebenarnya dari sisi fisik sudah tak seharusnya berseragam putih merah. Dia memberikan tempat duduknya untuk ibu itu. Si ibu bergegas menduduki dan mengucapkan terima kasih dan si anak hanya menyunggingkan senyum.
Yg membuatq tercengang karena anak tersebut adalah anak SLB. Mgkn dia tunawicara, sungguh pemandangan yg ironis. Anak itu lebih peka dari pada anak2 normal.
Saat itu aq lgsg tersadar ternyata penilaianq terhadap ank berkebutuhan khusus slama ini salah.
Mereka sebenarnya sama seperi kita, hanya saja karena suatu faktor yang memaksa mereka bersekolah disekolah khusus.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yg berbeda dengan ank pada umumnya, tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Yang termasuk di dalamnya antara lain : tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, tuna laras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. Karena karakteristik dan hambatan yang dimiliki ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang sesuai dengan kemampuan dan potensi mereka.
Pernah suatu ketika aq berbincang dengan seorang guru SLB, beliau bilang mendidik mereka memang membutuhkan kesabaran ekstra bahkan bisa dibilang melebihi cara bersabar dan menyayangi ank mereka sendiri. Sungguh luar biasa ya beliau2 yg berkerja sebagai guru SLB.
Dan mendidik anak ABK bukan menuntut kemampuan akademis namun lebih kepada pendisiplinan diri dan bersosialisasi. Namun tak jarang ank2 ABK yang jg mampu berprestasi.
Sekarang aq mulai mengerti, mereka bukanlah ank2 yg harus ditakuti, dicemooh bahkan dikucilkan. Namun terkadang persepsi orang awam yg membuat dunia mereka lebih sempit. Padahal mgkn mereka jg ingin tumbuh dan bergaul spt ank2 normal lainnya. Kesadaran orang tua jg sangat diperlukan, untuk mencurahkan kasih sayang dan perhatian.
Mereka adalah anak2 yg luar biasa, sekarang saat melihat mereka tersenyum kepadaku ada suatu perasaan yg istimewa. Bahkan aq kini ingin lebih mengenal dunia mereka. Ingin sekali belajar bahasa isyarat agar bisa mengerti apa yg mereka katakan :)
Rabu, 13 November 2013
Mengenal Lebih Dekat dengan Anak Berkebutuhan Khusus
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar